Karya: Delvi Adri, S.Pd
Pada Malam Berhujan
pernah kita mengendap dalam lamun
pada malam, tempias hujan berlarian mengejar
dan gelegar petir sahut-bersahut menghentak kita
sepasang kelekatu kuyup bergelayut di bawah
lampu-lampu
aku tersenyum: sahabat
atau kekasihkah mereka?
lalu, sebutir hujan yang jatuh di kelopak matamu
bercerita:
malam begitu akrab bagiku bersamamu, menghidu kuntum
cinta dobrak dadaku.
pun gemericik hujan bimbang pada kedalaman hati
seperti waktu yang berdetak berkata: akankah kau sahabat merupa kekasihku?
LengkungSenja, Marpoyan-Sigunggung
22 Oktober
2011
18:12 WIB
Estapet
(tentang kata
yang tertatah)
masihkah kita (ber)diam
menatap aksara-aksara membatu,
terkatung di lautan sajak-sajak usang?
masihkah kita (ber)diam
menatap aksara-aksara tersakat,
di arus-arus imaji?
mengalirlah!
seperti air basahi pesing comberan
menguaplah!
kala hari menjilat-jilat bumi
berhentilah diam
(malamsepi, bilikbiru)
2011,
Oktober Kelabu
Iblis
sunguh malam
penuh rayuan Iblis
ribuan berhala
bertengger tiap ubun-ubun
bahu
memikul-mikul gelap sepanjang malam
sang Dewa telah
lama terkubur
busuk bersama
sepi malam
dan Iblis hanyut
dalam pesta-pora
Pekanbaru
Diam
Sssstt...
hari sudah malam!
lihat gagak hitam mengintai
tikus cekatan mengendap di sudut dapur
dan lihat, kucing tidur pulas di kolong meja
diam!
Jangan berisik
Pekanbaru, 2011
Umur
Aku tanya almanak
:berapa cetak?
Aku tanya arloji
:berapa detak?
Astaga..
Aku terhenyak:
umurku bergerak
(etalasekaca, biascahaya)
2011,
Oktober Biru
LUKA(ku)
itu luka penuh darah
:tubuh siapa?
Itu tubuh kucur darah
:luka apa?
(malamsepi, gelegakapi)
2011,
Oktober Biru
LUKA(ku) (2)
itu luka penuh darah
:tubuh siapa?
Itu tubuh kucur darah
:luka apa?
TIKAM, pandang tikam cermin diri
Hei... itu tubuhku penuh
darah
(malamsepi, gelegakapi)
2011,
Oktober Biru
Ceno
di lengkung senja nan elok, pada ujung timur dusun
mengeriap, memerah saga siram ilalang.
lantun syairsyair muntah pada alunan Barak
memecah sunyi, membahana seantero negeri
Ninik-mamak mengunyah Pisombah sahut-bersahut
pada gerbang, Dubalang
berkacak pinggang
Duh...
sepasang Ceno
bersimpuh
ijab muntah, pun kabul menyambut
(Etalasekaca)
Oktober,
2011
Catatan:
Dalam bahasa
Melayu Kampar dialek Terusan
Ceno : tempat sirih-pinang untuk
upacara adat
Barak : Gabungan bunyian musik Talempong,
Gendang dan Gong
Pisombah : Sejenis puisi lama yang dilantunkan
pada pernikahan adat
Ninik-mamak : Tetua negeri
Dubalang : orang yang bertugas menjaga kampung
Pelacur
malam lembab di pelataran toko
perempuan bergincu merah jambu, berdada ranum agak
terbuka
barangkali itu dagangannya, pikirku.
tahukah kita?
dunia ini tak kekal, seperti hidup kan jadi bangkai.
dan banyak bangkai hidup karna nasib tak lagi
berpihak.
Ah, aku ngilu!
pagi, segelas teh manis dan sepotong roti bakar
teve lantang berkoar-koar:
“pilih partai
kami, melangkah bersama kami
bersama kita maju”
Ah, barangkali itu dagangannya, pikirku.
duh.. hatiku ngeri!
(Etalasekaca, biascahaya)
Oktober,
2011
