Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 13 April 2013

Saat Puisi Berbicara

Karya: Delvi Adri, S.Pd

Pada Malam Berhujan

pernah kita mengendap dalam lamun
pada malam, tempias hujan berlarian mengejar
dan gelegar petir sahut-bersahut menghentak kita

sepasang kelekatu kuyup bergelayut di bawah lampu-lampu
aku tersenyum: sahabat atau kekasihkah mereka?
lalu, sebutir hujan yang jatuh di kelopak matamu bercerita:
malam begitu akrab bagiku bersamamu, menghidu kuntum
cinta dobrak dadaku.

pun gemericik hujan bimbang pada kedalaman hati
seperti waktu yang berdetak berkata: akankah kau sahabat merupa kekasihku?

                        LengkungSenja, Marpoyan-Sigunggung
                        22 Oktober 2011
                        18:12 WIB

Estapet
(tentang kata yang tertatah)

masihkah kita (ber)diam
menatap aksara-aksara membatu,
terkatung di lautan sajak-sajak usang?

masihkah kita (ber)diam
menatap aksara-aksara tersakat,
di arus-arus imaji?

mengalirlah!
seperti air basahi pesing comberan
menguaplah!
kala hari menjilat-jilat bumi

berhentilah diam

                        (malamsepi, bilikbiru)
                        2011, Oktober Kelabu




Iblis

sunguh malam penuh rayuan Iblis
ribuan berhala bertengger tiap ubun-ubun
bahu memikul-mikul gelap sepanjang malam
sang Dewa telah lama terkubur
busuk bersama sepi malam
dan Iblis hanyut dalam pesta-pora

                        Pekanbaru
                        September, 2011

Diam

Sssstt...
hari sudah malam!

lihat gagak hitam mengintai
tikus cekatan mengendap di sudut dapur
dan lihat, kucing tidur pulas di kolong meja

diam!
Jangan berisik

                        Pekanbaru, 2011


Umur

Aku tanya almanak
:berapa cetak?

Aku tanya arloji
:berapa detak?

Astaga..
Aku terhenyak: umurku bergerak


                        (etalasekaca, biascahaya)
                        2011, Oktober Biru




LUKA(ku)

itu luka penuh darah
:tubuh siapa?

Itu tubuh kucur darah
:luka apa?

                        (malamsepi, gelegakapi)
                        2011, Oktober Biru


LUKA(ku) (2)

itu luka penuh darah
:tubuh siapa?

Itu tubuh kucur darah
:luka apa?

TIKAM, pandang tikam cermin diri
Hei... itu tubuhku penuh darah

                        (malamsepi, gelegakapi)
                        2011, Oktober Biru

Ceno

di lengkung senja nan elok, pada ujung timur dusun
mengeriap, memerah saga siram ilalang.
lantun syairsyair muntah pada alunan Barak
memecah sunyi, membahana seantero negeri
Ninik-mamak mengunyah Pisombah sahut-bersahut
pada gerbang, Dubalang berkacak pinggang

Duh...
sepasang Ceno bersimpuh
ijab muntah, pun kabul menyambut

                        (Etalasekaca)
                        Oktober, 2011

Catatan:
Dalam bahasa Melayu Kampar dialek Terusan
Ceno                : tempat sirih-pinang untuk upacara adat
Barak              : Gabungan bunyian musik Talempong, Gendang dan Gong
Pisombah        : Sejenis puisi lama yang dilantunkan pada pernikahan adat
Ninik-mamak   : Tetua negeri
Dubalang        : orang yang bertugas menjaga kampung



Pelacur

malam lembab di pelataran toko
perempuan bergincu merah jambu, berdada ranum agak terbuka
barangkali itu dagangannya, pikirku.

tahukah kita?
dunia ini tak kekal, seperti hidup kan jadi bangkai.
dan banyak bangkai hidup karna nasib tak lagi berpihak.
Ah, aku ngilu!

pagi, segelas teh manis dan sepotong roti bakar
teve lantang berkoar-koar:
“pilih partai kami, melangkah bersama kami
bersama kita maju”
Ah, barangkali itu dagangannya, pikirku.
duh.. hatiku ngeri!

                        (Etalasekaca, biascahaya)
                        Oktober, 2011
Iklan
0 "WELCOME TO MY BLOG" 14