Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 13 April 2013

Contoh Proposal Skripsi S1 Bahasa Indonesia


BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
            Berbicara soal karya sastra, tentu kita akan berpikir bahwa karya sastra merupakan suatu karya kreatif imajinatif. Sifat kreatif menyebabkan orang selalu bergerak dalam menghasilkan karya.  Itulah yang menyebabkan karya sastra juga mampu memperlihatkan kehidupan. Kreatif berawal dari pikiran dan perasaan. Namun untuk menuangkan kreatif itu ke dalam karya, diperlukan imajinasi.
Karya sastra ialah karya kreatif imajinatif. Yaitu karya yang mempunyai bentuk demikian rupa, sehingga unsur-unsur estetikanya merupakan bagian yang dominan. Dengan daya kretif orang dapat melihat beberapa kemungkinan, daripada apa yang telah pernah ada. Orang yang kreatif selalu melihat dan ingin berbuat lain atau lebih, daripada apa yang telah dijangkau oleh orang lain (Hamidy, 2001:7).

            Pada dasarnya, pengertian imajinatif dalam karya fiksi atas konsep serupa itu, lebih baik dikatakan sebagai semacam tiruan daripada kehidupan, tetapi bukanlah dalam pengertian tiruan yang kaku begitu saja. Kehidupan yang dirancang dalam karya fiksi melalui imajinasi, yang kemudian dituangkan dalam kreativitas yang dirancang sedemikian rupa, sehingga hasilnya bukanlah sekedar seperti satu tiruan daripada realitas kehidupan saja. Oleh karena itu, karya sastra semacam fiksi, bukanlah lawan daripada kebenaran, tetapi hanya berbeda dari fakta. Fakta dibatasi oleh waktu dan tempat, sedangkan karya sastra yang terjadi melalui imajinasi dan kreativitas dapat mengabaikan waktu dan tempat itu. “Setiap karya sastra serta ragam kualitas yang mungkin harus ada bersifat dinamis sehingga dalam suatu masa, suatu tempat maupun periode tertentu menjadi berbeda” (Aminuddin, 2010:55).
            Daya imajinasi selalu mempunyai potensi untuk menjangkau suatu peristiwa lebih daripada sekedar yang ada, dan kreativitas selalu mencoba melahirkan sesuatu melebihi dari apa yang telah pernah dibuat oleh hasil tindakan jasmani dan rohani manusia, hasil kegiatan kreatif imajinatif mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan karya yang estetis. Faktor kreatif imajinatif yang demikian itulah yang membedakan antara karya sastra dengan karya yang non sastra.
            Karya sastra selalu menarik perhatian karena mengungkapkan penghayatan manusia yang paling dalam, dalam perjalanan hidupnya di segala zaman, di segala tempat di dunia. “Karya sastra dapat menimbulkan daya tarik penikmat sastra, daya tarik itu ditimbulkan oleh karena pengalaman jiwa yang dituangkan pengarang dalam karya sastra” (Badrun, 1983:19). Karya sastra dapat menguras emosi pembacanya. Elmustian dan Jalil (Darmisah, 2010:2) mengatakan bahwa “Melalui tokoh-tokoh cerita yang imajinasi karya sastra dapat menimbulkan rasa iba, kasihan, haru, dan rasa simpati”.
            Sebagai karya imajinasi, karya sastra menawarkan berbagai permasalahan hidup dan kehidupan manusia, manusia dan kemanusiaan. Untuk menafsirkan dan mamahami sebuah karya sastra yang dihadirkan oleh pengarang kepada pembaca, tentu perlu mengadakan penafsiran dan pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah karya satra tersebut. Menganalisis suatu karya sastra sangat membutuhkan perhatian yang serius. Menganalisis suatu karya sastra berarti menguraikan unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut. Salah satu analisis yang menarik, yaitu analisis tentang watak tokoh perempuan yang ada dalam sebuah novel.
            Novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari tokoh ceritanya. Kejadian-kejadian itu menimbulkan gejolak jiwa pengarangnya terhadap peristiwa-peristiwa yang ditemuinya dalam masyarakat. Menurut Wijaya dalam Kresna (2001:39) mengatakan bahwa “Novel adalah sebuah uraian mendalam tentang satu tema yang diungkapkan lewat cerita. Ia bukan semata-mata kisah, tetapi juga perenungan”.
            Unsur-unsur pembangun sebuah novel yang kemudian secara bersama membentuk sebuah totalitas, di samping unsur formal bahasa, masih banyak lagi macamnya. Namun, secara garis besar berbagai unsur tersebut secara tradisional dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik (Nurgiyantoro, 2007:23). Penelitian ini hanya mengkaji unsur instrinsik yang mengungkap dari segi penokohan saja. Maksud penokohan di sini berhubungan dengan cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh atau pelaku cerita dan karakteristik tokoh-tokoh tersebut. Ada dua hal yang penting, yang pertama berhubungan dengan teknik penyampaian dan yang kedua berhubungan dengan watak atau kepribadian tokoh yang ditampilkan.
            Selama ini, penulisan novel didominasi oleh pria. Namun, saat ini telah banyak lahir pengarang, baik pengarang perempuan maupun pengarang laki-laki yang kretif menulis novel yang selalu mengekspresikan karyanya dalam tema-tema yang memperjuangkan kaum feminisme, baik melalui tokoh utamanya perempuan maupun tokoh utamanya laki-laki. Dari tokoh perempuan atau laki-laki yang digambarkan dapat ditemukan pandangan-pandangan baru tentang peran perempuan dan laki-laki yang membicarakan feminisme. Misalnya, pada novel Supernova karya Dewi Lestari, yang memperjuangkan kaum feminisme pada tokoh utamanya laki-laki. Dahulu perempuan telah dibuat rendah dan tekanan menjadi berlipat ganda bahwa wanita adalah lebih rendah kodratnya. Pandangan seperti ini telah lama didobrak dengan lahirnya paham feminisme. “Paham feminisme yaitu, paham yang timbul di kalangan wanita untuk mandiri sebagai subjek, baik berdasarkan tokoh, maupun berdasarkan kemandirian individu” (Sugihastuti, 2000:38). Paham ini sudah banyak dilakukan oleh para kritikus sastra feminisme dalam menganalisis suatu novel, tetapi yang membahas maskulinitas secara mendalam melalui tokoh perempuannya belum banyak. Kritik yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia yang membahas maskulinitas secara mendalam melalui tokoh perempuannya.
            Penulis tertarik meneliti maskulinitas karena hal ini sangat unik dan masih banyak orang yang belum mengerti. Maskulinitas adalah kejantanan seorang  lelaki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:720). Saat ini penulis meneliti tentang maskulinitas yang dimiliki seorang perempuan. Banyak perempuan yang memiliki sifat seperti ini baik secara sikap maupun secara tindakan serta semangat yang selayaknya hanya dimiliki oleh seorang pria. Masalah dalam novel Nyanyian  Kemarau ini adalah mengapa seorang perempuan bisa memiliki sifat maskulinitas, apa pengaruh dari sifat maskulinitas ini terhadap orang lain, terutama terhadap perempuan. Penulis dapat menggambarkan bagaimana pengarang memberikan gambaran tentang tokoh perempuan yang maskulinitas. Misalnya, pada novel ini Sari memiliki sifat maskulin yang ditunjukkan dengan keagresifannya terhadap Rusdi yang dicintainya. Penelitian dalam novel Nyanyian Kemarau ini terdapat tokoh utama laki-laki yang bernama Rusdi, pemeran utama perempuan yang bernama Sari dan pemeran pendukung yang bernama Aida. Tokoh perempuan yang diteliti yaitu dari sisi maskulinitasnya dan mencari siapa tokoh perempuan yang menonjol yang memiliki karakter maskulinitas. Selain itu, juga untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang peran dan perilaku perempuan dalam masyarakat pada latar waktu yang ditulis oleh pengarang.
            Dari tokoh perempuan yang digambarkan dapat ditemukan pandangan-pandangan baru tentang peran perempuan yang bebas, merdeka, dan rela mengikat dirinya kepada masyarakat dengan tujuan mencapai kehidupan yang benar-benar harmonis dan memuaskan. Pandangan yang demikian merupakan pandangan yang sampai saat ini dimiliki oleh seorang yang feminisme, yaitu seseorang yang bertujuan untuk mengubah struktur hirarki antara laki-laki dan perempuan.
            Penelitian yang relevan yang pernah dibuat tentang karya sastra yang mengangkat masalah maskulinitas adalah penelitian yang pernah ditulis oleh Tengku Darmisah dengan judul penelitian “Maskulinitas Pada Tokoh Perempuan Dalam Novel Getah Bunga Rimba Karya Marhalim Zaini”. Penelitian ini pernah dibuat sebagai bahan Skripsi Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Islam Riau tahun 2010 di Pekanbaru. Masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana hubungan antar tokoh dalam novel Getah Bunga Rimba karya Marhalim Zaini, (2) Bagaimana maskulinitas pada tokoh perempuan dalam novel Getah Bunga Rimba karya Marhalim Zaini. Jadi, penelitian ini bukanlah penelitian awal tetapi penelitian lanjutan dengan objek yang berbeda.
            Kesimpulan dari hasil skripsi yang ditulis oleh Tengku Darmisah tersebut adalah (1) hubungan antar tokoh adalah Wak Busut dan Poti Sui memiliki hubungan seperti suami istri dan mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Antui. Setelah Poti Sui meninggal dunia, Antui memutuskan untuk pergi ke ibu kota Pekanbaru. Di kota inilah Antui berjumpa dan berkenalan dengan Abel saat antui kecopetan. Abellah yang mencarikan antui tempat tinggal, (2) Sifat maskulinitas yang digambarkan oleh Poti Sui adalah sangat tangguh, kuat, dan mandiri karena telah membesarkan anak seorang diri tanpa bantuan suaminya. Maskulinitas yang digambarkan oleh Antui adalah sifat agresif karena dia seorang perempuan yang kuat, kasar, dan juga berani menghadapi laki-laki yang tidak bisa mengontrol emosi. Sifat mandiri juga terdapat dalam diri Antui karena Antui menyukai atau menggemari aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki seperti berburu babi hutan, bermain sampan, dan juga memancing. Antui juga tidak mengenal rasa takut karena Antui tidak takut pada lorong-lorong buatan babi-babi hutan dan juga kepada ular besar yang sedang kekenyangan.
            Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu sastra sebagai bahan reverensi dalam penelitian serupa. Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan dua manfaat. Pertama, guru bahasa dan sastra Indonesia dapat menerapkan hasil penelitian ini dalam kegiatan belajar mengajar. Kedua, dapat menumbuhkan kreativitas guru bahasa dan sastra Indonesia untuk menulis cerpen atau novel.

1.2  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un:
1.2.1        Bagaimana hubungan antartokoh dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un?
1.2.2        Bagaimana maskulinitas pada tokoh perempuan yang ada di dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un?

1.3  Tujuan Penelitian
            Ada pun tujuan penelitian ini adalah:
1.3.1        Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antartokoh yang ada dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.
1.3.2        Untuk mengetahui dan menganalisis unsur maskulinitas tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.

1.4  Ruang Linggkup Penelitian dan Pembatasan Masalah
1.4.1        Ruang Lingkup
            Penelitian ini termasuk ke dalam disiplin ilmu sastra yang berkaitan dengan struktur karya sastra terutama unsur instrinsik. Unsur instrinsik fiksi yang meliputi penokohan atau perwatakan, tema, alur, latar, dan gaya bahasa khususnya maskulinitas pada tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.

1.4.2        Pembatasan Masalah
            Pembatasan masalah bermanfaat agar tidak terjadi kerancuan dan penyimpangan dalam pembahasan masalah yang akan dikemukakan dalam penelitian ini. Penulis membatasi masalah pada penokohan perempuannya yang memiliki karakter maskulinitas yang terdapat pada novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah hubungan antar tokoh dan maskulinitas tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.

1.5  Penjelasan Istilah
            Supaya tidak terjadi kesalahpahaman tentang penelitian ini, penulis perlu menjelaskan beberapa istilah yang digunakan dalam masalah pokok penelitian ini.
(1)   Maskulinitas adalah kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:720).
(2)   Tokoh Perempuan adalah pemain atau pelaku perempuan yang ada dalam novel yang berjenis kelamin perempuan.
(3)   Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekeliling dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:788).
(4)   Novel Nyanyian Kemarau adalah salah satu karya sastra novel karangan Hary B. Kori’un.
(5)   Hubungan antar tokoh adalah “...kajian yang lebih menekankan aspek kaitan antar tokoh, dengan latar adanya jalinan hubungan antar tokoh itu. Dari kajian ini akan dapat dilihat apakah suatu karya fiksi mempunyai suatu sistematik yang padat, dan utuh ataukah amat renggang dan dibuat-buat tanpa suatu kewajaran yang logis” (Hamidy, 2001:37-38).
            Maksud maskulinitas dalam tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau adalah penggambaran sifat kelelakian yang dimiliki oleh tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.

 1.6  Kerangka Teoritis
            Teori-teori yang penulis gunakan untuk menganalisis masalah penelitian ini adalah teori Struktural, teori gender, dan hubungan antar tokoh.
1.6.1        Teori Struktural
            Istilah struktural memiliki kata dasar struktur, sistematika atau susunan. Struktur karya sastra menyarankan pada pengertian hubungan antar unsur intrinsik yang bersifat timbal-balik, saling menentukan, saling mempenggaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh (Nurgiyantoro, 2007:36). 
1.6.1.1  Penokohan
            Dalam pembicaraan sebuah novel, sering digunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan atau karakter dengan menunjukkan pengertian yang hampir sama. “Istilah tokoh menujukkan pada orangnya, pelaku cerita, watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang sering ditafsir pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 2007:165). Hal ini senada dengan yang dikatakan Hamidy (2001:23) “Perwatakan tokoh-tokoh dalam karya-karya sastra tradisional seperti cerita rakyat, biasanya dibuat dalam pola pertentangan sifat pelaku-pelakunya. Ada pelaku yang protagonis (positif) ada yang antagonis (negatif).

1.6.2        Teori Gender
            Istilah “gender” dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan maksud untuk menjelaskan perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang mempunyai sifat bawaan dan bentuk budaya. Perbedaan gender ini juga menjadikan orang berpikir kembali tentang pembagian peran serta tanggung jawab yang dianggap telah melekat, baik pada perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu gender bukanlah kodrat atau ketentuan tuhan. Maksudnya keyakinan bahwa laki-laki itu kuat, kasar, dan rasional. Sedangkan perempuan lemah, lembut, dan emosional bukanlah ketentuan kodrat Tuhan. Melainkan hasil sosialisasi melalui sejarah yang panjang karena dalam kenyataannya ada perempuan yang kekar, kuat, dan rasional. Menurut Sasongko (Nangoy, 2009:7) : “Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman”.
            Menurut Malahayati (Darmisah, 2010:11) mengatakan bahwa yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dengan sifat yang relatif tidak dapat berubah adalah fenomena biologis yang bersifat kodrat. Gender bukanlah suatu istilah yang mengacu pada karakter biologis (seks) laki-laki dan perempuan secara fisik. Ini menunjukkan bahwa gender adalah sifat atau karakter maskulinitas dan feminisme di mana keduanya dapat muncul baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, gender dapat dikatakan perbedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman (Sasongko, dalam Nangoy, 2009:7).
            Berbicara tentang maskulinitas sama halnya jika berbicara mengenai feminisme. Menurut Demartoto, maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki.  “Maskulinitas adalah kejantanan seorang laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya” (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:720).
            Demartoto mengatakan “Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan”. Feminisme dan maskulinitas adalah dua ideologi yang berbeda dan bertentangan. Maskulinitas adalah ideologi yang berdiri dominasi persaingan, eksploitasi, dan penindasan. Sedangkan feminisme merupakan ideologi yang berarti kedamaian, keselamatan, kasih dan, kebersamaan. Kualitas feminisme cenderung dimiliki perempuan, sementara kualitas maskulinitas cenderung dimiliki  oleh laki-laki, namun bukan berarti laki-laki tidak memiliki kualitas feminisme atau sebaliknya. Ratih Andjayani Ibrahim (Darmisah, 2010:14) konsep maskulin bukan semata secara fisik saja, namun juga sifat kekhasan, biasanya melekat pada pria. Aspek maskulin sebenarnya terdapat pada laki-laki. Seperti (1) cara berpikir logis, (2) agresif, (3) memiliki kemampuan mengungkapkan perasaannya secara lugas, (4) cara bertutur yang tegas. Jika sifat itu ada pada diri perempuan maka dia termasuk perempuan maskulin.
            Pada umumnya masyarakat memiliki anggapan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kepribadian yang berbeda sejak lahir. Seorang yang berjenis kelamin laki-laki dianggap memiliki sifat yang maskulin, seperti agresif, rasional, terbuka, dan dinamis. Sedangkan perempuan memiliki sifat-sifat yang feminisme, seperti kemayu, serta lebih cenderung tertutup.
            Kata feminisme sering menimbulkan prasangka, pada dasarnya lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai arti feminisme yang sesungguhnya dan pendekatan feminisme yang menekankan pada penelitian tentang perempuan, untuk perempuan dan oleh perempuan tidak cukup memuaskan untuk mengangkat pentingnya peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. “Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra barat ialah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca wanita membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya” (Sugihastuti,  2000:37).
            Sugihastuti (2000:37) mengatakan “Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita”. Sebenarnya, setiap orang menyadari adanya ketidakadilan atau diskriminasi yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya. Perbedaan jenis kelamin hanya berkaitan dengan ciri-ciri biologis, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Perbedaan ini tidak bisa diubah karena laki-laki tidak mengalaminya. Dengan demikian, apa yang disebut perbedaan gender hanya terkait dengan perbedaan identitas mental dan posisi sosial antara laki-laki dan perempuan, yang perbedaan itu tidak bersangkutan dengan kodrat biologis, tetapi bisa dipertukar dan saling berganti. Maksudnya, perempuan pun bisa memiliki identitas yang maskulin dan bisa pula memiliki posisi sosial yang unggul di ranah publik.
            Gender perlu dipersoalkan karena perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Secara umum, adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab, bahkan ruang tempat manusia beraktivitas. Kodrat manusia, pria dan wanita  secara seksual berbeda. Hal ini menyangkut perbedaan fisik dan biologis, termasuk hormon. “...otak pria lebih besar, mempunyai fungsi lebih baik, lebih cerdas, dan memiliki kelebihan lainnya bila dibandingkan dengan otak wanita” Awuy (Chaer, 2003:133).
           



1.6.3        Hubungan Antar Tokoh
            Berbicara tentang hubungan antar tokoh dalam suatu karya fiksi merupakan pendekatan yang memperhatikan cerita itu secara utuh agar dapat menganalisis hubungan antar tokoh dalam cerita itu. “...kajian yang lebih menekankan aspek kaitan antar tokoh, dengan latar adanya jalinan hubungan antar tokoh itu. Dari kajian ini akan dapat dilihat apakah suatu karya fiksi mempunyai suatu sistematik yang padat, dan utuh ataukah amat renggang dan dibuat-buat tanpa suatu kewajaran yang logis” (Hamidy, 2001:37-38).
             
1.7  Metodologi Penelitian
1.7.1        Pendekatan, Jenis dan Metode
(1)   Pendekatan Penelitian
            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah “Pendekatan yang memperhatikan segi-segi kualitas seperti: sifat, keadaan, peranan (fungsi) sejarah dan nilai-nilai” (Hamidy, 2003:23). Dalam hal ini yang akan dibahas adalah sifat dan keadaan dalam penelitian ini bagaimana maskulinitas tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.
(2)   Jenis Penelitian
            Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Maksudnya, penulis memperoleh data dari perpustakaan dengan mengumpulkan buku-buku yang ada hubungan dengan masalah yang akan diteliti.
(3)   Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Menurut Muttaqin metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian. Metode deskriptif dipilih karena mempermudah masalah yang akan diteliti dan sesuai untuk penelitian sastra tentang novel yang banyak menggambarkan tokoh, watak, alur, tempat, dan sudut pandang. Metode deskriptif adalah metode yang memaparkan secara jelas objek penelitian. Sedangkan metode deskriptif analisis yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis segala hal yang berkaitan dengan perwatakan tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.

1.7.2        Sumber Data
            Kajian ini bersumber dari novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un yang terbit pada tahun 2009. Novel ini diterbitkan oleh penerbit Kakilangit Kencana Jakarta, dengan 248 halaman.

1.7.3        Teknik Penelitian
1.7.3.1  Teknik Pengumpulan Data
            Teknik atau cara pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah teknik hermeneutik. Secara sederhana, hermeneutik berarti tafsir. Studi sastra juga mengenal hermeneutik sebagai tafsir sastra (Endraswara, 2011:42). Teknik hermeneutik adalah suatu kajian karya sastra dengan membaca, catat dan simpul. Teknik ini biasanya dipakai untuk kajian sastra yang menelaah roman, novel, dan cerpen (Hamidy, 2003:24). Teknik hermeneutik penulis gunakan dalam penelitian ini agar dapat mengumpulkan data tentang cerita novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un. Hal yang perlu dilakukan penulis untuk mengumpulkan data tentang novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un adalah:
1.      Membaca secara berulang-ulang dengan tidak melewati tiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.  
2.      Mengambil dan mencatat nama-nama tokoh dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un, yaitu: Rusdi, Hasyim, Pramithasari atau Sari, Aida, Ibu Sari, Ibu Rusdi dan Dina.
3.      Mengambil tokoh perempuan yang memiliki sifat maskulinitas dalam beberapa peristiwa. Untuk mendapatkan data perempuan yang memiliki sifat maskulinitas, penulis mengacu pada teori gender.
4.      Mangambil data-data maskulinitas dalam beberapa peristiwa yang ada. Contoh maskulinitas yang dimiliki Sari “Aku terkejut dan cepat-cepat meneleponnya kembali. ‘maksud saya, saya tidak benar-benar serius tentang yang kemarin. Bisa kita ketemu malam ini?” (Kori’un, 2009:29).
5.      Jika data-data telah didapatkan. Maka, data-data tersebut akan penulis kumpulkan menjadi satu dalam deskripsi data.

1.7.3.2 Teknik Analisis Data
            Penelitian ini menggunakan teknik analisis wacana. Menurut Wikipedia Analisis wacana atau studi wacana adalah istilah umum untuk sejumlah pendekatan untuk menganalisis tertulis, lisan, penggunaan bahasa menandatangani atau signifikan semiotik acara. Dengan ini penulis menggunakan teori Struktural, gender, dan hubungan antar tokoh.
            Dalam menganalisis karakter dalam tokoh perempuan dari segi maskulinitas dan menganalisis hubungan antar tokoh, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mengambil nama-nama tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un.
2.      Menganalisis tokoh perempuan yang menggambarkan karakter maskulinitas dan hubungan antar tokoh  melalui pendekatan teori struktural, teori gender, dan teori hubungan antar tokoh.
3.      Mengelompokkan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan sifat maskulin yang dimiliki tokoh perempuan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un. Misalnya sifat maskulinitas yang dimiiliki oleh Sari adalah Agresif. “Aku terkejut dan cepat-cepat meneleponnya kembali. ‘maksud saya, saya tidak benar-benar serius tentang yang kemarin. Bisa kita ketemu malam ini?” (Kori’un, 2009:29)
4.      Apabila semua data sudah dianalisis, selanjutnya disajikan dalam laporan penelitian sesuai dengan masalah dan teori yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra [Teori Sastra]. Surabaya: Usaha Nasional.
Chaer, Abdul. 2003. Psikolingustik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Darmisah, Tengku. 2010. Maskulinitas Pada Tokoh Perempuan dalam Novel Getah Bunga Rimba Karya Marhalim Zaini. Skripsi. FKIP UIR.
Demartoto, agryo. 2010. http://argyo.staff.uns.ac.id/files/2010/08/maskulinitas-ind1.pdf
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jakarta: Caps
Hamidy, UU. 2001. Pembahasan Karya Fiksi dan Puisi. Pekanbaru: Unri Press.
—————. 2003 Metodologi Penelitian Disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.
Kori’un, Hary B.2009. Nyanyian Kemarau. Jakarta: Kakilangit Kencana.
Kresna, Sigit B. (Ed). 2001. Putu Wijaya Sang Teroris Mental. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nangoy, Nelly (Ed). 2009. Konsep dan Teori Gender. Jakarta: BKKBN Pusat.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah mada University press.
Sugihastuti. 2000. Wanita Dimana Wanita: Perspektif Sajak-sajak Toeti Heraty. Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia.


Demikian yang bisa bagikan pada agan-agan, semoga bermanfaat bagi kita semua. :)




Iklan
0 "WELCOME TO MY BLOG" 14