
Percakapan
Oleh:
Delvi Adri
Pernahkah kamu berfikir
sesuatu ketika kamu berada di depan sebuah cermin? Atau sekedar bertanya, siapa
aku ini? Apa yang sudah aku perbuat untuk kedua orang tuaku? Apa hal yang sudah
aku lakukan untuk menyenangkan hati mereka? Akan menjadi apa aku setelah ini? Atau
sekedar meluapkan keluh-kesah atau juga penyesalan atas dirimu? Coba bayangkan,
seandainya bayanganmu di cermin itu berbicara padamu.
Mengumpat, mencela dan membentakmu atas pertanyaan-pertanyan yang kamu lontarkan itu. Ya, dari sinilah percakapan itu dimulai. Pagi ini aku sebenarnya ada jadwal kuliah. Kuliah? Oh Tuhan, mengapa harus kuliah? Aku sudah muak dengan celoteh-celoteh dosen, bosan dengan tugas-tugas yang menumpuk setiap minggu. Ah, aku benar-benar bisa gila membayangkan tugas-tugas yang menumpuk, ruangan pengap dan celotehan dosen yang mirip deruan mesin-mesin pabrik, belum lagi memikirkan keuangan yang menipis. Menipis? Bukankah keuanganku selalu menipis setiap hari? Tidak peduli tanggal muda atau tanggal tua. Yah begitulah kenyataannya. Andai saja ayahku seorang pengusaha atau seorang pejabat. Tidak ada kuliah, tidak ada tugas-tugas, hidup hanya bersenang-senang menikmati harta jerih payah mereka. Alangkah indahnya.
Mengumpat, mencela dan membentakmu atas pertanyaan-pertanyan yang kamu lontarkan itu. Ya, dari sinilah percakapan itu dimulai. Pagi ini aku sebenarnya ada jadwal kuliah. Kuliah? Oh Tuhan, mengapa harus kuliah? Aku sudah muak dengan celoteh-celoteh dosen, bosan dengan tugas-tugas yang menumpuk setiap minggu. Ah, aku benar-benar bisa gila membayangkan tugas-tugas yang menumpuk, ruangan pengap dan celotehan dosen yang mirip deruan mesin-mesin pabrik, belum lagi memikirkan keuangan yang menipis. Menipis? Bukankah keuanganku selalu menipis setiap hari? Tidak peduli tanggal muda atau tanggal tua. Yah begitulah kenyataannya. Andai saja ayahku seorang pengusaha atau seorang pejabat. Tidak ada kuliah, tidak ada tugas-tugas, hidup hanya bersenang-senang menikmati harta jerih payah mereka. Alangkah indahnya.
“Dasar bodoh!”
“Siapa itu?” aku
mencari-cari muasal suara itu, tapi aku tidak menemukan siapa pun. Bagaimana mungkin orang masuk ke
kamarku tanpa sepengetahuanku dan mengatai ku bodoh. Kamar? Apa pantas ruangan
yang nyaris kosong ini disebut sebuah
kamar? Hanya ada tempat tidur dan sebuah cermin yang menghiasi dinding.
“Siapa yang kau cari
anak muda? Aku di sini!”
“Hei dimana kamu? Lancang sekali masuk ke kamarku”
“Aku sudah di sini
semenjak kau menempati kamar ini, lihat ke cermin anak muda.”
“Bagaimana mungkin?”
“Apa yang kau pikirkan?
Aku mendengar semua keluh kesahmu anak muda. Bagaimana mungkin kau berpikir
serendah dan sebodoh itu? Kuliah saja yang benar, jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Aku beranjak
meninggalkan kamarku untuk menyantap sarapan yang telah disediakan, aku tidak
peduli siapa yang menyediakan makanan mirip bubur itu, yang penting aku kenyang.
Jika aku perhatikan, teman-temanku itu sangat beruntung. selalu mendapat kiriman yang melebihi kebutuhan kuliah mereka.
Sedangkan aku, tak banyak yang dapat aku
harapkan dari orang tuaku. Aku heran melihat teman-temanku. Ada yang setelah
mendapat kiriman dari kampung, lantas menggunakan uang kirimannya untuk clubbing, karaokean dan ada juga yang
taruhan bermain Billiar. tapi yang
menjadi paforit mereka adalah bermain
domino. Kadang aku berpikir, jika saja aku dikirimi uang seperti mereka, pasti
bisa aku tabung untuk kredit sepeda motor. Tidak perlu lagi aku capek-capek
berjalan kaki untuk pergi kuliah. Tapi, apakah benar jika aku mendapat kiriman
seperti mereka, lalu aku menabung? Mungkin
aku sama saja seperti mereka jika mendapatkan kiriman lebih. Hanya
bersenang-senang. Pernah suatu hari aku berkata pada Asrul: “lebih baik uang kiriman
yang lebih setiap bulannya itu ditabung, dari pada dihabiskan untuk clubbing dan segala macam setiap malam. Jika
nanti ada sesuatu mendesak, ‘kan bisa digunakan uangnya.” Namun ternyata
pemikiran Asrul tidak sama denganku, lantas dia berkata “Ah, selagi ada uang Bro dan selagi kita masih muda. Nikmati
dulu yang ada ini”
Meski pun teman-temanku
boros dalam mengelolah keuangan, mereka tidak pelit untuk berbagi. Terbukti
saat aku tidak punya uang sama sekali untuk makan, ada saja dari mereka yang
memberiku uang atau sebungkus nasi lengkap dengan lauknya. Aku sadar, dalam
keadaan sulit yang kualami seperti ini, aku harus berinisiatif untuk mencari
pekerjaan untuk mencukupi keuanganku. Sebenarnya aku malu harus dikasihani
teman-temanku, tapi apa boleh buat. Semua tempat aku melamar pekerjaan,
menuntut waktu penuh untuk bekerja. Mana ada lagi waktuku untuk kuliah,
sedangkan kuliahlah yang menjadi prioritas utamaku datang ke kota ini. Aku
sering kali tertekan dengan keadaanku, bagaimana tidak? Kebutuhan untuk kuliah
bukanlah kecil, belum lagi uang kost,
dan yang paling penting adalah kebutuhan untuk makan, sering aku makan hanya
satu kali dalam sehari, belum lagi tugas-tugas yang menumpuk setiap minggu. Lagi-lagi
harus mengeluarkan uang untuk print
tugas-tugas itu.
Tak jarang aku melamun,
berhayal yang tidak mungkin rasanya aku dapatkan. Terkadang mengumpat pada diri
sendiri. Ingin rasanya menyerah pada keadaan. Kadang membuatku frustasi jika memikirkan semua kerumitan
dalam hidupku. Seandainya aku seperti mereka, mungkin keadaanku tidak
menyedihkan seperti ini. Umpatan-umpatan itu selalu datang setiap hari.
“Hei anak muda.”
“Siapa?”
“Aku disini, jangan
selalu berhayal. Itu hanya akan membuatmu gila.”
“Siapa kamu?”
“Kau pikir, siapa aku
ini bodoh?”
“Dimana kamu?”
“Hei orang gila, aku di sini”
“Kamu yang gila.” Aku
membanting piring makananku, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada seorang pun yang aku
lihat berada di dekatku. “Dasar gila.” gumamku kesal. Siapa sih sebenarnya orang aneh itu? Atau itu
hanyalah ilusiku saja? Dasar aneh, gila, tolol!
“Sudah selesai makannya
Jon?”
“Sudah pak, ini habis
semua”
“Bagus, sekarang minum
obatnya. Setelah itu kita ke ruang rehabilitasi ya”
Kamar
Klasik
Februari,
K-14:2012
